Menu
Tampilkan postingan dengan label Tips Dapur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Dapur. Tampilkan semua postingan

Tips dan cara membuat nastar mulus kinclong

Assalamualaikum,

Masih sama dengan keyword yang kemarin ya, Nastar.
Cara bikin selai nastar yang legit aduhai, sudah. Resep Nastar yang enak dan lumer, juga sudah. Saatnya eksekusi dong, ya.

Dari selesai subuh sudah semangat empat lima nih, mulung-mulung cantik sambil nyanyi-nyanyi. Ehh pas si nastar udah mateng, nastarnya burem.

Kesel kan? Kesel dong pasti.

Mak icik juga sering gitu. Apalagi kalau udah di puk-puk cantik, pas dioven, eh pecah. Kalau enggak gitu, mleber kemana-kemana.
Kalau sudah begini, si cantik Nastar yang tadinya mau eksis jadi primadona kue lebaran batal montok deh, yekan?
Malah jadinya si Nastar pesek. Atau si Nastar buruk rupa? Hahaha, jangan!
Cukup si itik saja yang buruk rupa, ya.
Nastar mah jangan.

BACA JUGA: Resep Kue Nastar Lumer

• Cara membuat nastar yang cantik dan mulus


Ini beberapa pertanyaan yang paling sering bergumul dalam benak, pas tetiba nastar idaman kita melenceng dari ekspektasi.

  1. Kenapa Nastar saya meleber bentuknya ya kak? 
  2. Kenapa Nastar saya kok pecah ya kak?
  3. Kenapa Nastar Saya burem dan nggak bisa kinclong? 
  4. Kenapa Nastar saya Bergerindil? 
  5. Kenapa Nastar saya kurang lumer?

1. Pengocokan Mentega 

Pernah nggak saat kita membuat kue kering, sudah kita hati-hati membentuknya secantik mungkin, namun ketika si kue keluar dari oven hasilnya malah melebar atau meleber dan nggak secantik sewaktu tadi kita membentuknya?

Saya pernah, juga sering dulu. Tapi Alhamdulillah setelah dapat beberapa pencerahan dari para tetua dan suhu perkuean, terjawab sudah kenapa nastar saya dulu pesek, hehehe.

Saat kondisi ini terjadi, hal yang pertama kita lakukan pastilah menambah jumlah tepung. Ini kerap terjadi, termasuk saya dulu juga begitu.
Penampakan kue yang melebar mengansumsikan adonan yang terlalu lembek. Dan adonan yang terlalu lembek, bisa diasumsikan kurang tepung.

Namun, apa yang terjadi ketika kita menambahkan tepung terlalu banyak dari takaran resepnya?

Tentu saja hal ini sangat berpengaruh terhadap rasa dan tekstur kuenya. Bisa jadi kurang manis, aroma menteganya jadi pudar, atau teksturnya menjadi lebih padat dan keras.

Kalau sudah begini, bukan nastar aroma susu dan mentega lagi, tapi berubah jadi nastar rasa tepung, bukan?
Ini juga bisa sesikit menjawab pertanyaan kenapa kue saya tidak lumer.

Pengocokan mentega atau margarin untuk kue kering, cukup hanya sampai mentega tercampur rata dengan gula dan telur saja. Tidak perlu terlalu lama apalagi sampai mentega pecah bahkan mengembang.
Kecuali untuk jenis kue kering yang membutuhkan tehnik meleber, seperti misalnya kue lidah kucing atau Almond cookies.

Jadi, sudah ada gambaran kan Bunda kenapa nastarnya kemaren bentuknya jadi meleber kemana-kemana.

Yang tidak kalah penting juga, saat proses pencampuran tepung. Banyak ibu-ibu yang takut keburu anaknya nangis, langsung mengaduk adonan dengan tangan. Biar cepet katanya.
Ini kurang tepat ya Moms!

Aduklah adonan menggunakan spatula hingga tercampur rata, baru membentuknya dengan tangan, yang bahkan kalau bisa sebaiknya menggunakan sarung plastik tangan atau hand gloves, tapi yang khusus untuk memasak ya Bunda, jangan keliru sama sarung tangan berkebun.

Selain lebih higienis, sarung tangan dapat menghalangi adonan terpapar suhu tubuh secara langsung yang dapat menyebabkan adonan menjadi keras dan kue menjadi kurang lumer.


2. Suhu oven

Hampir semua kue kering harus dipanggang dengan suhu kecil, begitu juga dengan nastar. Bahkan nastar ini butuh api yang lebih kecil daripada kue kering jenis lainnya.

Kenapa?
Karena suhu yang terlalu besar atau terlalu panas bisa membuat kue kering pecah. Sebenarnya hal ini tidak hanya berlaku pada kue kering saja, cake atau bolu pun demikian. Bakalan retak merekah kalau suhunya terlalu tinggi.

Saya sih tidak bisa menjelaskan prosesnya secara ilmiah, kimiawi atau apalah. Tapi saya pernah baca demikian, demikian pula saya pernah mengalaminya. Hehehe.


Lalu berapakah suhu yang tepat?

Saya tidak paham betul berapa suhu persisnya ya, karena setiap oven memiliki karakter yang berbeda-beda. Tapi sependek yang saya tahu dan yang pernah saya baca adalah tidak pernah lebih dari 150°C, atau berkisar di suhu 130 - 150 derajat Celsius.

Karena sampai saat ini saya pribadi belum pernah menggunakan oven listrik untuk memanggang nastar, jadi belum bisa banyak bercerita tentang nominal suhu. Lain kali saya update ya kalau sudah paham dengan oven listrik untuk nastar ini.

Tapi buat yang menggunakan oven jadul atau tangkring alias otang. Itu tuh, oven yang dari bahan gembreng yang musti ditangkringin di atas kompor
Terutama yang versi jadul atau tanpa thermometer ya, karena otang versi kekinian sudah banyak yang dilengkapi fitur thermometer.

Selalu gunakan api paling kecil, ingat! Paling kecil ya. Biasanya posisi api ini kalau dikecilin lagi bakalan mati atau kelap-kelip *bukan lampu di kota*

Jika api kompor sudah "merasa" diset paling kecil tapi masih juga pecah, berarti masih belum paling kecil tuh Bunda. Bisa jadi kompornya yang error *kayak punya saya* atau mulungnya masih kurang padat, jadi masih ada beberapa retakan kecil yang ketika kena suhu panas dan mengalami yang namanya mengembang, dia akan retak.

Kalau masih mentah saja sudah tidak mulus, jangan tanyakan lagi kenapa itu retak saat matang nanti. Hihihi.


3. Olesan Kuning Telur

Kesalahan pertama kenapa nastar kita hasilnya burem alias butek adalah waktu pengolesan kuning telur yang kurang tepat.
Yes, dulu saya juga sering mengalami hal ini. Nastar sudah dipoles cantik pakai full kuning telur pula, eh pas keluar oven warnanya jadi coklat kusam atau jadi pucat lecek.

Pengolesan kuning telur yang tepat adalah setelah nastar matang ya ibuk-ibuk, bukan pada saat adonan mentah yang siap dioven.
Karena, jika kuning telur dipanggang terlalu lama maka warnanya akan lebih cepat matang, jadi kusam dan ikut retak saat proses kue mengembang.

Namun yang juga perlu diperhatikan adalah, tunggu kue dingin atau hangat kuku terlebih dahulu baru dilakukan sesi pengolesan.

Ini penting! Kenapa?

Karena kuning telur akan segera matang saat terkena suhu yang tinggi.
Pernah nih saya ngalamin, pas nastar baru matang dan keluar oven langsung saya poles, eh malah bergerindil kuning telurnya jadi kayak telur rebus. Hehehe.


• Tips membuat nastar yang kinclong


Mungkin tulisan ini adalah yang kesekian ribu tentang tips membuat nastar yang kinclong. Ada beberapa juga tips-tips yang pernah saya baca mengenai ramuan kinclong untuk nastar, namun ini yang akhir-akhir ini sering saya gunakan dan paling nyaman buat saya.

Ramuannya kinclong mujarabnya adalah:
(Resep diadopsi dari IG @rondut dan @fen.z)
  • 3 butir kuning telur
  • 10 gram adonan nastar
  • 1 sdt penuh butter/mentega
  • Sedikit susu cair atau minyak goreng, jika diperlukan

Cara membuatnya:

Campur dan aduk rata semua bahan hingga kekentalannya menyeruapai nail polish alias cat kuku. Jadi tidak terlalu encerbataupun terlalu kental.

Tips dan cara membuat nastar yang cantik dan mulus
Adonan olesan nastar

Oleskan bahan olesan merata pada permukaan nastar yang sudah matang dan tidak panas lagi. Ingat! Sudah tidak panas lagi ya nastarnya.
Panggang lagi dengan suhu paling rendah selama lima menit saja.

Tips dan cara membuat nastar yang cantik dan mulus


Sebaiknya gunakan kuas yang lembut khusus untuk olesan kuning telur, banyak dijual di TBK terdekat.

Tips dan cara membuat nastar yang cantik dan mulus
Contoh kuas yang saya gunakan

Gunakan kuning telur omega untuk hasil yang lebih golden, karena telur negri warna kuningnya lebih pucat. Namun jika telur omega sulit didapat, atau harganya terlalu mahal boleh disiasati dengan sedikit meneteskan pewarna kuning telur.

Adonan nastar yang dicampurkan, selain berfungsi sebagai pengental juga dapat mengurangi garis-garis retakan akibat proses mengembang saat pemanggangan tadi.

Bolehkah mentega diganti margarin?
Boleh saja, namun tentu saja akan berbeda aromanya.

Susu cair hanya sebagai pengencer saja jika dirasa adonannya terlalu kental. Boleh menggantinya dengan minyak goreng jika tidak ada stok susu cair, ini menurut saya.
Namun penambahan minyak goreng akan menghasilkan bintik-bintik embun setelah pemanggangan. Finishing nya adalah ditap-tap dengan tissue untuk menghilangkan si embun.
Namun jika produksi nastarnya banyak, penambahan minyak goreng kurang efektif.

Nah, semoga sudah terjawab ya pertanyaannya kenapa nastar saya pecah dan kusam. Yuk, mumpung lebaran masih lama nyicil bikin nastar.
Eitss, tapi awas habis sebelum lebaran yah :)

Kalau habis boleh order ke Mak Icik ya gaes, xixixi :)

Nastar mak icik kitchen
Nastar kinclong by Mak Icik Kitchen





- Mak Icik -

8

Cream cheese Homemade

Cream Cheese Homemade


Assalamualaikum,

Pernah gak pas pengen banget praktekin bikin Cake, eh ada salah satu bahan yang nggak available?
Entah itu karena di tempat kamu tinggal nggak ada TBK yang menjual, karena belinya harus jauuuuh banget, atau, barangnya tersedia di TBK setempat tapi harganya agak bikin garuk-garuk kepala?

Hehehe, kalau saya mah sering, sering garuk-garuk kepala (^o^) #pokjidat.

Salah satunya adalah Cream Cheese, bahan yang lagi populer di dunia per-baking-an ini harganya lumayan bikin manyun saya.
Untuk ukuran saya yang masih belajaran, belanja cream cheese ukuran satu atau dua kilo sekali beli itu agak mengerikan, ya. Mengingat entah sisanya bisa kapan lagi saya bikin, dan yang pasti harganya yang, ehem, duhhh maapkan saya ya cream cheese yang belum mampu meminangmu. Hiks hiks hiks...

Nah, kemaren pas iseng-iseng googling saya nemu resep cream cheese homemade ini. Dalam postingan asli dari lovelyninda.wordpress.com, judulnya sih cheese filling ya. Tapi sependek pengamatan saya, kalo cheese filling itu biasanya adalah cheese cream yang sudah diracik alias dicampur gula dan pastinya rasanya sudah ada manis-manisnya (semoga bener ya, hehe).

Jadi asumsi saya, hasilnya ini lebih mirip sama Cream Cheese. Mirip aja lho ya, inget! Ini cuma mirip, oke?
Cream Cheese KW ini mungkin bisa digunakan sebagai pengganti cream cheese untuk adonan cake atau frosting, tapi tentu saja tidak dapat menggantikan seratus persen ya, Moms. Harap diingat.

Langsung aja yuk eksekusi...


BACA JUGA: Resep Buttercream yang Enak dan tidak Ngendal


Resep Cream Cheese Homemade


BAHAN:

  • 175 gram keju cheddar parut
  • 200 ml susu cair full cream
  • 1/2 sdt garam
  • 1 sdm tepung maizena / tepung custard, dicampur dengan 3 sdm susu cair (Penggunaan maizena/custard mempengaruhi warna nantinya)
*Pada gambar saya menggunakan tepung custard


CARA MEMBUAT:

  1. Campur cheddar, susu cair dan garam. Masak diatas api kecil sambil diaduk hingga keju lumer. Perhatikan jangan sampai mendidih ya. Matikan api.
  2. Tuang campuran tepung custard/maizena, aduk rata.
  3. Masak kembali dengan api kecil sambil diaduk hingga mengental.
  4. Dinginkan dan siap digunakan sebagai pengganti cream cheese untuk cake atau frosting.

Tips:
Masukan dalam toples kaca yang kedap. Bisa disimpan di kulkas untuk daya tahan lebih lama.



- Mak Icik -




0


Cara mudah Mengupas Telur Rebus

Tips Mengupas Telur Rebus


Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarakatuh...

Halo Bunda, suka makan telur rebus gak? Atau sukak mengolah masakan yang mengandung telur rebus?
Kayak telur bumbu bali, atau soto ayam yang pakai telur rebus, atau... lagi Diet Mayo atau diet apa aja yang harus makan telur rebus, hehe.

Saya sih sukanya makan soto ayam pakai telur rebus yang banyakan bagian kuningnya, wuahaha #ngelap iler

Itu dulu! Sebelum negara api menyerang.

Sekarang mah boro-boro makan soto ayam pakai telur rebus yang apalagi banyakan kuningnya, makan Soto ayam aja sekarang harus bikin sendiri (ini yang saya kadang sering membatalkan niat pengen makan soto).

Soalnya kalo beli kan pasti mengandung rebusan kulit dan lemak dan entah apalagi untuk membuat si kuah soto nikmat, sedap dan memanggil-manggil, yakhan?

Dan itu, kandungan kolesterolnya sudah bisa dipastikan bakalan membuat telapak kaki dan tangan saya semacam tersengat tawon, bengkak!
Ya begitulah ceritanya...

Well, balik lagi ke telur rebus!

Pasti sering ya pas lagi ngupas telur rebus malah putih telurnya ikutan terkelupas. Apalagi pas buru-buru, wuahaha, pasti nambah tuh snewennya.

Satu, yang pasti sayang! Yakhan?

Apalagi kalau mau dimasak lagi seperti telur balado atau telur bali, jelek dong ya kalau penampakan telurnya bopeng-bopeng.
Belum lagi kalau ngelupasnya sudah sampai pada titik darurat alias kuning telurnya jadi terbuka, hmm bisa luluh lantah itu si kuning pas digoreng.

Hmm, no no no...

Gampang kok caranya biar telur rebus mudah dikupas dan si putih telur tetep muluz kincling kincling. Ini saya diajarin nenek saya, dulu.

Caranya, rendam seketika si telur rebus yang baru matang ke dalam air dingin hingga telur benar-benar dingin. Lalu kupas deh...

Jeng jeng jeng.... Ini dia penampakan si telur rebus muluz tanpa bopeng bebas dempul (^o^)


Cara mudah Mengupas Telur Rebus


Update 11.06.18:
Menurut mas deddyhuang, yang udah membagikan tips nya di kolom komentar (makasih mas ilmunya), bisa juga menambahkan sedikit garam saat merebus telur. 

Dan, setelah saya coba beberapa kali Alhamdulillah hasilnya juga mulus, no bopeng dan nggak pakai ribet. Nah mantab kan?

Buat yang punya tips lain cara mengupas telur, yuk sharing disini!


Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat ya, dan happy cooking...



- Mak Icik -


2

Fungsi dan Tips Penggunaan Margarin dan Mentega dalam resep kue
Foto: dunyanews.tv


Fungsi dan Tips Penggunaan Margarin dan Mentega dalam resep kue



Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarakatuh


Setelah kemaren saya posting tentang Perbadaan Margarin dan Mentega. Sekarang saya juga mau sharing tentang fungsi bahan tersebut dalam pembuatan kue menurut sudut pandang saya, dan yang saya pelajari dari belajar otodidak ini.

Bagi orang yang baru terjun di kancah per-baking-an seperti diriku ini, pasti masih sering merasa risau dengan bahan kue berwarna kuning dan lembek ini ya. 
Bukan kenapa, tapi mungkin ini disebabkan karena harga mentega yang ngalah-ngalahin harga sekerdus susu balita. Alasan utamanya pastilah takut kalau gagal,  sayang khan, hehe...

Saya dulu begitu, maklumlah ya secara isi dompet tak setebal kabut di bukit Kintamani. Ditambah lagi pengalaman saya mencicipi kue enak yang masih strata kasta rakyat jelata. Jadi masih suka ambigu.

Baca Juga: Sama kah Margarin, Mentega dan Butter?

Tapi semakin kesini, setelah nyobain kue dengan menggunakan butter, menggunakan margarin aja atau yang ngandalin B.O.S alias butter substitute oil, Alhamdulillah saya jadi agak mendapat pencerahan.

Fungsi mentega dan margarin dalam kue

Fungsi mentega dan margarin dalam pembuatan kue adalah sama, yaitu bertindak sebagai lemak yang menjaga agar kue lebih tahan lama, memberi aroma dan rasa khas, membuat tekstur kue menjadi empuk serta menjaga kelembaban kue dengan mengikat cairan dalam cake.
Lalu apakah keduanya bisa saling menggantikan?

Fungsi dan Tips Penggunaan Margarin dan Mentega dalam resep kue


Pada dasarnya margarin dan mentega bisa saling menggantikan, karena kedua bahan ini sekilas penampakan (((penampakan))) -nya pun serupa, karena sama-sama berwarna kekuningan meskipun pada mentega warna kuningnya cenderung lebih pucat ketimbang pada margarin, tapi tentu saja tidak sama persis ya.

Dalam hal aroma dan citarasa, mentega lebih unggul dengan wangi yang khas dan karakteristik serta rasa yang lebih gurih daripada margarin.
Ini kenapa kue-kue dengan menggunakan mentega menjadi primadona, lebih terasa premium dan berkelas.
Kecuali bagi sebagian orang yang memang tidak suka dengan produk susu dan olahannya, maka mentega akan dirasa lebih eneg.

Dari segi tekstur, mentega lebih lembut daripada margarin. Mentega juga lebih mudah meleleh pada suhu ruang, sedangkan margarin cenderung lebih stabil.
Hal ini tentu juga berdampak pada tekstur kue yang dihasilkannya.

Cake yang menggunakan butter atau mentega memiliki remah yang lebih banyak daripada cake yang menggunakan margarin yang memiliki tekstur lebih kokoh.
Namun, penggunaan butter pada cake akan membuat cake lebih lentur dan lembut meskipun cake sudah dingin atau sudah menginap, sedangkan cake dengan margarin akan cenderung lebih keras saat cake sudah dingin.

Itu sebabnya beberapa resep cake menggunakan perpaduan antara mentega dan margarin, sehingga dapat menghasilkan Cake yang lebih kokoh dengan sedikit remah, namun memiliki pori yang halus dan lembut serta tetap memiliki aroma dan citarasa gurih khas butter yang tidak dimiliki margarin.

Perbandingan antara keduanya bisa berbeda pasa setiap resep. Bisa satu banding satu, dua banting satu, atau bisa dengan menggunakan persentase, tergantung si pembuat resep.
Angka perbandingan bisa ditentukan dengan memperhitungkan jenis kue apa yang ingin dibuat, tekstur yang diinginkan, dan sebagainya dan sebagainya.

Sedangkan dalam pembuatan cookies atau kue kering, mentega berperan banyak pada kerenyahan kue dan tentu saja dengan citarasanya. Mentega yang notabene terbuat dari susu, tentu lebih gurih ketimbang margarin yang terbuat dari minyak kelapa sawit.

Meski demikian, peran margarin pada kue kering juga ada lho, yaitu jika ingin kue yang lebih kokoh margarin lebih unggul daripada mentega.
Jadi perpaduan kedua bahan ini tetap dibutuhkan ya.

Disisi lain, harga mentega jauh lebih mahal daripada margarin, ini dikarenakan bahan baku keduanya memang sangat berbeda. Maka tidak sedikit yang cenderung lebih memilih menggunakan margarin saja, atau menggunakan margarin dengan persentase lebih banyak daripada menteganya. Hehe kadang saya juga gitu...

Mentega sendiri berbeda ciri khas tergantung darimana asal mentega tersebut dibuat. Seperti misalnya jenis Dutch Butter, yaitu mentega buatan belanda yang memiliki wangi dan citarasa yang lebih khas daripada mentega buatan New Zealand dan sebagainya.
Tapi balik lagi ke selera ya.

Saya kutip dari situs ilmuternak.com, tanda-tanda mentega yang baik adalah:

  1. Warnanya kuning mengkilat.
  2. Berbau segar dan berbau kepala susu.
  3. Jika dilelehkan harus ada bagian yang jernih dan yang keruh.
  4. Bila masih dalam kaleng, mentega tidak mencair.


Demikian hal nya dengan margarin, bagi orang yang sudah lama berkecimpung dalam dunia baking pasti sudah cukup peka dengan rasa dan aroma margarin dari satu merek dengan merek lainnya. Begitu juga dengan tekstur dan warnanya.

Beberapa merek margarin lebih mengkhususkan dirinya dalam hal masakan, sebagian lagi menawarkan sebagai olesan roti tawar yang gurih, dan sebagian lainnya meng-klaim produk tersebut bisa untuk semunya.
Jadi, lagi-lagi balik lagi ke selera ya bunda.


Tips Menyimpan Margarin dan Mentega

Sering kan kalo kita bikin kue masih ada bahan-bahan yang tersisa. Termasuk mentega dan margarin ini, terlebih kedua produk ini mudah sekali rusak jika sudah terkena udara bebas.
Berikut cara penyimpanan yang baik agar lebih awet:
  1. Gunakan sendok yang bersih saat mengambil produk agar produk tidak tercampur bahan lain yang membuat produk terkontaminasi.
  2. Tutup rapat produk dan lapisi dengan plastik berlapis agar lebih awet, lebih bagus lagi jika menggunakan plastik atau kertas dengan lapisan aluminum. Biasanya saya menggunakan plastik bekas kemasan coklat dll yang memiliki lapisan aluminum ini pemirsah (ngirit yah? Iyah, hehe...).
  3. Untuk penyimpanan jangka waktu yang lebih lama, sebaiknya disimpan di kulkas, tentu saja tetap dibungkus dengan lapisan aluminum tadi ya. Dan biarkan dalam suhu ruang lagi jika akan digunakan, agar kualitas produk tetap baik.

Tips dari para senior dan master baking yang pernah saya baca, hindari menggunakan mentega atau margarin dalam kondisi suhu kulkas, karena daya emulsinya akan berkurang dan menyebabkan kandungan air tidak terikat sempurna dalam kue, begitu...

Baiklah, kayaknya udah cukup panjang ya cerita saya hari ini. Semoga bermanfaat dan selamat berbaking ria.

Stay healthy, stay happy!
Jangan lupa recharge Bahagia mu ya kawan...



- Mak Icik -




4

Sama kah Margarin, Mentega dan Butter?

Margarin, Mentega dan Butter


Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarakatuh


Bagi yang sudah lama berkecimpung di dunia per-baking-an pasti udah faham ya apa itu mentega dan margarin. Tapi bagi para newbie kayak saya ini tidak sedikit yang pernah gagal understanding soal perbadaan bahan kue yang satu ini.

Dulu, waktu awal banget saya mulai seneng baca resep kue (baca aja ya ini, gak pernah praktek xixixi), saya tidak pernah memperhatikan apakah itu tertulis margarin, mentega atau butter, karena saya anggap itu sama.

Anggapan saya waktu itu mentega itu ya margarin. Soalnya di tempat saya, di jawa timur, biasa menyebut 'blueband' itu dengan sebutan 'mertego' atau 'mentego', ini yang akhirnya membuat saya berasumsi mentega itu ya mentego atau mertego.
Bahkan kata margarin sendiri masih cukup asing buat saya saat itu, karena orang di daerah saya lebih sering menyebutnya dengan mertego tadi, atau juga tetap menyebutnya 'blueband' even itu palmia, palmboom atau yang lainnya.

Setelah saya mulai belajar bikin kue secara otodidak dari resep-resep di internet atau di aplikasi Cookpad -beneran praktek ya kalo yang ini bukan cuma baca resep doang- disitu saya kadang merasa sedih mulai 'ngeh' dan menyadari keberadaan tulisan margarin dan mentega tersebut, hehe...

• Margarin itu yang gimana sih?

Margarin umumnya terbuat dari lemak nabati. Dibuat dengan beberapa tahapan proses seperti Hydrogenasi hingga Emulsifikasi (jangan tanya itu proses apaan ya, saya nggak ngerti, cuma pernah baca begitu prosesnya).

Margarin yang banyak beredar di pasaran Indonesia terbuat dari minyak kelapa sawit dengan beberapa penambahan seperti Vitamin A dan D, BHA sebagai antioksidan agar tidak cepat tengik, juga penambahan Beta-karoten sebagai pewarnanya.

Merek yang banyak beredar di Indonesia antara lain: Blueband, Palmia, Palmboom, Amanda dll. Baik dijual  dalam kemasan kaleng, kemasan sachet atau kiloan yang di re-pack oleh toko bahan kue.

• Kalo Mentega itu yang gimana lagi?

Berbeda dengan margarin yang umumnya berbahan dasar lemak nabati, mentega terbuat dari bahan dasar lemak hewani, yaitu susu.

Mentega terbuat dari krim susu atau kepala susu dengan kadar lemak setidaknya 25 - 45% yang didapat dari proses pemisahan atau separasi dari susu perah.
Susu yang paling sering digunakan adalah susu sapi, tapi ada juga yang menggunakan susu dari hewan ternak lain.
Namun secara umum, dan yang banyak beredar di Indonesia adalah mentega dari olahan susu sapi. Jenis dan asal sapi serta lingkungan peternakannya pun mempengaruhi kualitas susu sapi yang dihasilkan, sehingga berpengaruh pula terhadap hasil olahannya.

Dari krim susu tersebut diproses lagi dengan beberapa tahapan hingga menghasilkan Mentega yang berkualitas. Dalam proses pembuatannya tersebut juga, ada proses pemeraman atau fermentasi pada suhu 21°C yang berlangsung sedikitnya 12 jam hingga mencapai tingkat keasaman 0,2 - 0,4%.
Ini fungsinya untuk menghasilkan aroma Mentega yang khas dan karakteristik.

Mentega ini sedikitnya mengandung lemak sebesar 80% dari total beratnya. Dengan kandungan lemak yang cukup besar tersebut, banyak dari kita yang menghindarinya, entah itu alasan takut gemuk atau penyakit seperti kolesterol.
Padahal masih ada kandungan gizi lainnya lho yang baik. Tapi tetap harus bijaksana ya dalam mengkonsumsi sesuatu, karena pada dasarnya sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

• Nah kalo Butter itu yang gimana?

Ini juga yang pernah bikin saya ketawa pas baca postingan resep yang cuma asal copas-copas aja, yang bahkan bisa jadi tanpa mempraktekannya terlebih dulu. 
Soalnya saya sering mendapati postingan (terutama di Facebook) dengan 'asal comot' gambar dari resep yang di share temen-temen di cookpad, tentunya tanpa ijin ya.

Dalam postingan tersebut, sang penulis menempelkan sebuah resep yang terdapat bahan Butter di dalamnya. Lucunya dalam penjelasan cara membuatnya dituliskan  butter dengan merek 'blueband'. Saya sampek nanya mbah Google lho apa blue band mengeluarkan produk butter. Tapi saya mencoba memahami, mungkin maksudnya Margarin yang pake aroma butter itu. Hehe...

Nah lucunya lagi, saya pernah juga baca postingan resep dimana si penulis telah me-rebake alias sudah mempraktekan resep yang ada dan di posting ulang.
Dalam resep aslinya disebutkan adanya penggunaan bahan Butter dan Margarin dalam satu resep. Si penulis pun menjelaskan bahwa dia menggunakan merek 'blueband cake dan cookies' untuk butter nya dan menggunakan 'blueband serbaguna' untuk margarinnya.
Lagi-lagi saya #tepokjidat. (Ya Allah ampuni hambamu yang sering tepok jidat ini).

Parahnya lagi, temen saya juga pernah komentar soal si butter ini pemirsah. Pas itu dia dateng ke rumah dan saya lagi bikin kue. 
Dengan obrolan santai soal kue-kue beserta sambil nanya harganya, saya sedikit menjelaskan kalo harga kue saya yang ini agak mahalan soalnya saya pake mentega. 
Dan dengan gaya 'wawasan luas' nya dan ahli segala bidang itu beliau pun menyarankan pada saya "kenapa nggak sekalian pake butter aja?", Hehe... 

Dari sekian cerita lucu itu, akhirnya saya pun berguru pada mbah Google lagi -maklum saya emang nggak pernah kursus bikin kue-. Dan belajar dari para master baking dan food-blogger selebritas tersebut saya menyimpulkan bahwa Butter is Mentega (meskipun banyak juga artikel yang memberi definisi lain antara butter dan mentega).

Jadi Butter itu ya Mentega ya Moms, Mak, Bund, Mbak -yang cantik dan baik hati serta tidak sombong dan rajin menabung-. 
Bedanya, kalo Butter itu ada di kamus bahasa Inggris-Indonesia, sedangkan Mentega tinggalnya di kamus bahasa Indonesia-Inggris, huehehe...

• Terus Roombutter itu apa?

Istilah ini pernah saya dengar jaman dulu dari seorang 'master' kue di kampung saya. Beliau menyebutnya 'rombuter'. Bahan kue yang dijual dalam kemasan ulang kecil dan diberi tulisan rombuter itu berwarna kuning, lembek dan beraroma seperti susu yang cukup kuat (begitu seingat saya). 
Sang master kue di kampung saya itu menyarankan untuk menambahkan bahan rombuter ini agar menghasilan kue yang enak beraroma susu.

Tapi, lagi-lagi saya berguru sama master baking-Blogger (karena ini tempat saya menimba ilmu per-baking-an otodidak saya. Maklum kalo harus rogoh kocek demi kursus saya belum sanggup hiks hiks), -Insya Allah suatu saat ya-.

Balik lagi ke Roombutter, Roombutter itu pada dasarnya ya butter alias mentega. Tapi di Indonesia -kita tercinta ini- umumnya menyebut mentega yang dikemas dalam kaleng dengan sebutan Roombutter (ini saya malah jarang denger). Roombutter sering juga diartikan dengan butter yang memiliki aroma kuat dan khas.
Namun sebenarnya Roombutter adalah istilah yang dimbil dari bahasa Belanda yaitu Roomboter yang artinya Mentega. 



Jadi, Roombutter is Butter is Mentega ya Moms, dan ini berbeda dengan Margarin atau yang orang jawa sering bilang 'mertego'.

Mentega sendiri terbagi menjadi dua jenis; yang memiliki rasa asin (salted) dari proses penggaraman dan ada juga yang tawar (unsalted) yang tanpa melalui proses penggaraman.
Umumnya mentega yang dikemas dalam kaleng adalah jenis yang salted.

Kemasan dari mentega ini ada dua jenis juga, ada yang dikemas dalam kaleng ada juga yang dikemas dengan kertas berlapis aluminum.

Mentega kemasan kaleng biasanya daya tahan simpan dalam suhu ruangnya lebih tinggi (dengan catatan kemasan belum dibuka ya), itu sebabnya istilah Roombutter lebih diperuntukan untuk mentega dalam kemasan ini, dengan definisi room yang berarti kamar/ruang.
Sedangkan mentega dengan kemasan aluminum foil harus disimpan dalam suhu yang lebih rendah untuk daya simpan yang lebih lama. Hal ini dikarenakan mentega memiliki titik suhu cair yang rendah, sehingga dalam suhu ruang mentega akan mudah meleleh seperti hati saya.
Jadi kalo bungkusnya kertas gitu terus ditaruh di meja, bisa dipastikan dia akan lumer kan?

Merek-merek mentega yang ada di Indonesia antara lain; Wjsman, Elle & Vire, Anchor, Triangle dll. Kualitas dan aroma dari satu merek dengan merek lainnya bisa berbeda tergantung ciri khas dari mana asal mentega tersebut diproduksi.

Sedikit penjelasan juga tentang Margarin aroma Butter. Saya masih sering mendapati para emak yang sering galau dan gagal understanding dengan produk yang satu ini.
Margarin aroma Butter adalah produk Margarin yang diberi tambahan perisa atau aroma Butter. Dalam kemasannya pun demikian disebutkan. Jadi buat yang masih salah kaprah tentang pengertian 'butter' dan 'aroma butter' mohon dibaca lagi dalam kemasannya ya, biar nggak kecewa kalo nanti hasil kue nya tidak sesuai dengan harapan jaya.
Contoh merek yang beredar di Indonesia adalah Blueband Cake & Cookies, Palmia Royal.

Oke mak, segini dulu ya penjabaran Margarin vs Mentega menurut sudut pandang saya. Insya Allah nanti saya posting juga B.O.S atau Butter Substitution Oil, soalnya ini juga banyak yang gagal understanding dalam mengartikannya (termasuk saya dulu) wkwkwk...

Selamat berbaking ria.
Stay healthy stay happy!


- Mak Icik -





2

Top Search

New Entry

design by Helplogger

Related post

Author



Saya bukan good writer, juga bukan good blogger, apalagi baking master,,, saya hanya emak-emak berdaster yang sering lupa kalo umurnya udah tua dan anaknya udah dua
(^。^) 

Yuk kenalan disini






"Berbagi-lah hal yang bermanfaat untuk orang lain meski itu kecil, Insya Allah akan memberi manfaat lebih untuk mu meski itu kelak"

- Sera Wicaksono -

Community