Menu

Dibalik voucher menginap gratis dari travel club, penipuan atau bukan?

Ada yang pernah dapat iming-iming voucher gratis dari travel club?

Atau anda sedang galau karena baru saja dapat telfon undangan untuk mendapat voucher nginep gratis?


Bingung antara senang, penasaran dan takut ini penipuan?


Saya baru saja mengalaminya, simak yuk cerita lengkap saya!



***


Dibalik voucher menginap gratis dari travel club


Dibalik voucher gratis dari travel club dan penipuan
Ilustrasi. theboardgamehut.co.uk


Assalamualaikum,

Salam dulu ya biar lebih afdol, karena alhamdulillah saya masih tetap muslimah -yang baik dan suka mendoakan kebaikan- aamiin. Hehe.

Postingan ini mungkin keluar dari niche blog saya, tapi gapapa lah, saya cuma ingin sharing pengalaman saya saja.
Karena sepertinya banyak yang mengalami kejadian ini, dan bisa jadi akan ada lagi yang mengalami hal serupa. Eh tapi semoga jangan, deh.

Makanya saya merasa sepertinya perlu untuk mengunggah tulisan ini juga, siapa tahu dan semoga bermanfaat.


• Berawal dari telepon

Sore itu, yang masih panas sih kalau di Bali, ya. Ponsel saya tetiba berdering.

Kebetulan pak suami baru pulang kerja dan si baby Rara baru bangun dari tidur siang kami, iya kami, karena posisi saya juga masih baring-baring malas di tempat tidur.

"Tolong dong, yah!" Pinta saya pada pak suami kala itu.

Kemudian pak suami pun dengan sangat ikhlas mengambilkannya untuk saya.
Alhamdulillah sih ya kalau untuk urusan kesabaran, suami saya ini stoknya banyak. Sabar banget ngadepin isteri manja kayak saya ini, wkwkwk.

Tapi itu bukti sayang dia kepada saya dong pastinya, ehem.

Oke, balik ke telepon tadi.

Saya yang saat itu baru bangun tidur, sebenarnya sih agak malas mau angkat telpon yang ternyata berawalan 021.
Bukan apa apa sih.
Soalnya, dulu dulunya, yang nelpon saya dengan nomor berawalan 021 itu 95% dari asuransi kartu kredit.

Tapi karena si kartu kredit sudah saya kubur, jadi yasudahlah saya angkat saja siapa tahu panitia lomba blog mau ngumumin kalau saya pemenangnya. Aamiin *plusngarep.

Setelah saya angkat dengan suara yang agak parau, kemudian si mbak-mbak di telpon tersebut nerocos menjelaskan yang menurut saya nggak jelas.
Karena saya juga baru bangun, jadi masih loading juga otaknya.

"Perkenalkan saya xxx dari xxx bla bla bla..." Kira-kira begitu kalimat awal si embak.

Kalimat paten bagi sales alias marketing atau apalah sebutannya.
InsyaAllah saya agak hapal, karena saya juga pernah jadi sales meskipun gagal *wkwkwk.

Next.


Ilustrasi. m.inponsel.co.id


• Mulai terpengaruh dengan telpon

Sampai pada kalimat, "ibu mendapat voucher menginap gratis selama 3 hari 2 malam"

Telinga saya agak mulai respon nih kalau denger ada yang gratisan, hehe, yang sudah jadi emak pasti paham perasaan ini.

Tapi saya masih selow.

Masa iya, enggak ada angin, enggak ada petir, bisa dapet nginep gratisan di hotel. 2 malam pula.

Saya dengerin dan iya iyain aja apa kata si embak di telpon. Sambil otak saya mulai jalan-jalan.

"Lumayan nih"

"Hoax gak ya?"

Saya mulai bangkit dari kasur dan konsentrasi dengan perkataan si embak nya.

Saya nanya, "dapat referensi nama saya dari siapa ya?"

Si embaknya jawab, "mungkin ada teman ibu yang merekomendasikan ke kami, ibu"

Alus banget jawaban si embak. Yasudahlah kita ikuti saja sampai sejauh mana.

Intinya harus tetap fokus!

Sejauh tidak meminta no KTP, atau no kartu kredit atau no rekening, apalagi no suami, saya ikutin saja.
Yang penting fokus dan tetap sadar!

Dan bla bla bla, saya dan suami diminta hadir untuk pengambilan voucher menginap tersebut pada hari H di hotel xxx di daerah Tuban deket bandara Ngurah Rai.
Dengan syarat harus mengikuti seluruh sesi acara selama 90 menit.

Semudah itu?
Oke, saya iyain aja.

Si embak nya memastikan kalau saya dan suami pasti bisa hadir, saya jawab iya.
Dari dua pilihan jam yang ditentukan, saya ambil yang sesi jam 3 sore.

Saya pun menjawab beberapa pertanyaan si embak itu, antara lain:
  • Nama lengkap saya dan suami, ini nanti dipakai saat reservasi karena harus sesuai KTP. Ok!
  • Umur saya dan suami. Ok!.
  • Alamat. Ok!

"Baiklah ibu, nanti saya kirim undangannya melaui WA ya ibu?"
Dan telpon pun di tutup dengan hati saya yang masih sumringah campur agak worried.

Sebenarnya dalam hati saya bertanya.
"Kok WA sih? Harusnya kan E-mail, ya?"

Tapi saya berusaha untuk tetap positive-thinking aja. Ya kali undangannya kan bisa dalam bentuk file gambar, bisa di WA dong ya.
Hari gini kan apapun lebih gampang by WA.


Ilustrasi. era.id


• Mulai mikir ini penipuan!

Saat itu hari minggu sekitar jam 5 sore waktu Bali.
Saya mulai mikir, kantor apaan sih minggu sore gini nelponin orang cuman buat ngasih voucher gratisan.

Gratisan lho ya!

Kalau jualan sih okelah, namanya juga kantor travel, bisa jadi memang nggak ada hari libur. Kan yang diurusin orang liburan.

Saya mulai buka Google, mau searching, tapi bingung mau masukin keyword apa. Nama travelnya yang tadi disebutin lupa.
Dan nggak kepikiran buat masukin keyword voucher gratisan.

Akhirnya dengan santainya saya masukin nomor telpon 021 tadi, dan eng ing enggg...
Hampir semua halaman teratas itu menyebutkan penipuan, penipuan, penipuan.

Yowes pasrah! Gagal dapat voucher nginep gratis.

Sampai sejam belum juga ada indikasi WA dengan konten undangan tersebut.
Dua jam, tiga jam, empat jam, sampai mau tidur, belum ada juga.

Oke lupakan saja! Mungkin embaknya sadar kalau saya tidak recommended untuk dikasih voucher gratisan.


• Undangan yang akhirnya saya terima

Senin siangnya, ternyata si embak kemarin itu WA dan ngirim undangan yang cuman diketik doang pakai WA, *yaelah apaan sih ini?!

Saya minta dikirimin undangan lewat email juga.
Maksud saya agak memastikan sejauh mana kepropesionalannya.

Soalnya, dalam undangan tersebut menyebutkan alamat kantor, no telepon, alamat website dan bukan web gratisan, lho!
Alamat E-mail nya juga pakai hosting, nah lho, beneran nggak sih ini.

Sejauh ini saya kembali fifty fifty, dari yang gara-gara undangan by WA tadi sempet ngedrop.

Saya tiba-tiba inget temen saya, yang kebetulan Blogger juga, senior.
Saya coba nanya, barangkali apa beliau ini yang merekomendasikan nama saya.
Kalau iya, insyaAllah saya nggak perlu worried ini penipuan lagi dong ya.

Ternyata beliau menjawab sebelum saya bertanya, wkwwk.

Saya baru nanya begini, "mbasay, ada rekomenin namaku buat ke travel atau semacamnya gitu nggak?"

Dan jawaban beliau, "ohh, itu nanti kamu bakalan diprospek buat jadi membership-nya"
bla bla bla dan beliau menjelaskan kalau dia juga pernah mengalami hal serupa. Tapi bukan beliau yang merekomendasikan, sih.

Kebetulan saat itu beliau tidak join, tapi tetep dapet voucher. Dan voucher itu pun bisa dipakai!
3 hari 2 malam. Ini menurut penuturan beliau.

Jadi intinya, kalau saya mau dapat si voucher gratisan itu, saya dan suami memang harus datang dan mendengarkan pencerahan selama 90 menit nantinya.
Tapi katakan NO! Di akhir sesi pencerahan itu tadi.

Ini point penting!

Sampai sini saya agak lega. Untung saya nanya.


***


H-1 si embak telemarketing itu WA saya lagi, ngasih gambar hotel yang harus saya datangi besoknya. Sayangnya, gambar yang dikirim ke saya itu hanya gambar animasi, serupa gambar rumah di baliho property.
Bukan foto realnya.

Alhamdulillah sih, gini gini saya pernah lah kalau cuma masuk ke hotel bintang bintang di Bali.
Biar kata saya cuma buruh event doang, yang masuknya kebanyakan lewat loading dock, wkwkwk.
Apalagi kalau event nya di resort, saya bagaikan jarum ditumpukan jerami.

Yasudah saya iya iyain aja.
Dikirimin Google Map nya juga, oke.


Ilustrasi. harian.analisadaily.com


• Hari H yang mendebarkan

Sampailah kita pada hari H.

Paginya saya udah pesenin anak saya untuk ijin pulang sekolah lebih awal.
Anak mbarep saya ini kelas 6 SD dan masih anget-angetnya tahun pelajaran baru.

Suami juga sudah saya pesenin, pokoknya jam 1 tet! Kita sudah harus jalan.
Karena estimasi perjalanan yang lumayan jauh dan pasti macet.

Sebelumnya, sebelum saya berangkat. Si embak telemarketingnya WA lagi, menginformasikan kalau nanti saya ditanya atau disuruh ngisi form, harus bilang sudah pernah ke luar negeri.
Ke Singapore dan Malaysia.

Ini karena kemarin pas ditanya saya bilang belum pernah.

Duhh, saya harus bohong ya?
Saya aamiin kan saja deh.

Saya mikirnya gini, mungkin si embak telemarketing ini juga ditarget harus ngumpulin sekian orang untuk digiring ke "kandang eksekusi" yang nantinya bakalan "digarap" sama sales eksekutornya.

Oke, saya iyain saja.

Saya pun dikasih kerpekan form yang nanti bakalan saya isi.
Yang isinya antara lain:
Nama, umur, pernah atau tidak jalan-jalan ke luar negeri, berapa budget yang dihabiskan untuk traveling, jenis kartu kredit yang digunakan, dst.

Di awal sudah saya jelaskan, kalau saya sudah tidak ada CC alias kartu kredit, yang ketika kehadiran tersebut sebenarnya wajib ditunjukan.
Alasannya sebagai bukti untuk sponsor saja.

Lalu si embak nya bilang, "enggak apa-apa ibu bilang saja kalau CC nya hilang, boleh dibawa saja buku panduannya"

Akhirnya saya bawa saja surat pengiriman kartu kredit saya itu, karena cuma itu saja yang tertinggal. Kartunya sudah dipotong dan hilang entah kemana, karena sudah saya tutup akunnya pasca saya belajar berhijrah.
Semoga tetap istiqomah ya, aamiin.

Last minute sebelum saya berangkat, saya masih sempetin nanya ke temen saya yang Blogger itu. Buat meyakinkan diri aja sih, dan beliau mengatakan untuk santai saja dan nikmatin rules nya. Pura-pura aja seperti tidak tahu tujuan mereka.

Setelah selesai sholat dzuhur, kami pun berangkat. Tak lupa berdoa minta perlindungan.


• Drama pertama

Saya sudah sampai di Lobby hotel TKP, dan masih dibimbing si embak telemarketing tadi menuju ke lokasi "kandang eksekusi".

Dan ketemulah saya dengan meja resepsionis acara travel tersebut. Seperti pada umumnya, ada embak yang standby disana.
Pas saya menuju ke meja, si embak nampak sedang menerima telpon dan paham tentang akan adanya kedatangan saya.

Asumsi saya, si embak telemarketing tadi lah yang menelpon dan memberitahukan tentang kehadiran saya.

Saya pun duduk di kursi yang ada didepannya meja resepsionis yang telah tersedia. Ada dua kursi, karena sesuai undangan harus suami dan isteri.

Dalam bayangan saya, acaranya bakalan kayak seminar atau acara MLM gitu.
Dimana kita, para undangan duduk manis mendengarkan penuturan para narasumber dan diselingi acara coffee break.
Seperti yang tertulis di undangannya, yang menyebutkan acara "pameran galeri hotel".

Setelah berbasa basi, si embak resepsionisnya meminta saya untuk mengisi form.

Di sebelah meja resepsionisnya ini ada seperangkat sofa empuk. Saya mempersilahkan anak sulung saya, suami saya dan anak bayi saya untuk duduk disitu saja.

Suami saya ini orang nya memang polos, jadi biarkan perdana menteri saja yang menghandle.
Walaupun sebelum berangkat tadi semua sudah saya briefing, ya. Termasuk anak sulung saya. Yang girang banget dia dapat jatah "diem aja" yang penting main game.

Saya pun mengisi form sesuai kerpekan yang dikirimin telemarketing nya tadi. Kemudian dimintain KTP untuk menunjukkan bahwa kami suami isteri.

Kemudian dimintalah juga menunjukkan credit card. Nah ini dia.

Saya sih polos saja, saya keluarin kertas surat tadi. Sesuai arahan mbak telemarketing. Yang dia bilangnya hanya menunjukkan logo Visa atau MasterCard sebagai bukti untuk sponsor saja.

Dan surat itu sebenarnya juga menunjukkan bahwa saya "pernah" memiliki CC tersebut. Karena ada nama lengkap, no CC, jumlah limit, dsb

Mba resepsionisnya mulai bingung.

Ilustrasi. harianpost.co.id


Saya polos saja.

Dari awal, kalau memang kami nggak jadi dapat voucher nginep gratis juga nggak apa-apa sih. Anggap saja sebagai pengalaman, sekalian jalan-jalan.
Karena setelah diingat-ingat, ternyata hampir dua tahunan ini kami tidak main ke sekitaran Kuta. *Jangan ketawa.

KTP dan surat cinta kartu kredit tadi dikembalikan lagi sama mba resepsionis.

Kemudian dia nanya lagi, ada kartu debit?

Iyes "debit",
yang langsung nyangkut di pikiran saya adalah kartu ATM B*CA.

Saya bilang udah nggak ada. Karena memang sudah saya tutup.

Mbak nya nanya lagi, "selama ini kalau untuk pembayaran pembayaran pakai apa?"

Saya bilang, "owh iya ada pakai atm B**"

Kemudian saya pun diminta menunjukkannya.

Tanpa pikir panjang sih sebenarnya saya sudah mau menunjukkan saja, kebetulan dompet si bapak juga sudah di tas saya.

Ini yang harus segera dikendalikan ya, INGAT!


• Pertolongan Allah itu nyata

Alhamdulillah, Allah menjaga kami.

Ternyata, kartu ATM kami ketinggalan di saku jaket pak suami dan ditaruh di jok motor.
Semua rekening bank konvensional kami sudah kami tutup dan hanya menggunakan satu rekening bank konvensional tersebut saja untuk transaksi.
Semata-mata karena demi memudahkan transaksi saja.

Sedangkan satu lagi rekening lainnya tidak bisa sembarangan debit, jadi saya tak perlu menunjukkannya juga.

Mba nya kelihatan bingung, dan pamit mau konsultasi dulu.
Saya masih lempeng aja, santai.

Kemudian saya pun pindah duduk di sofa empuk dan gabung sama suami dan anak-anak saya.

Tak lama berselang, datanglah si mas mas kemayu memperkenalkan diri lalu menunjukkan voucher menginap gratis yang nantinya akan diberikan kepada kami sebagai ucapan terima kasih karena telah bersedia hadir dalam acara tersebut, katanya.

Dengan syarat, harus mengikuti acara selama 90 menit, terhitung sejak kami masuk.


• Drama eksekusi

Masuklah kami ke "kandang eksekusi" yang ternyata diluar ekspektasi saya.
Di dalam ruangan tersebut hanya ada sekitar lima hingga tujuh meja dengan masing-masing empat kursi yang mengitarinya.

Di sebelah kiri ada meja dan beberapa printer dengan dua mbak-mbak yang menjaganya. Yang mukanya agak ditekuk.

Kemudian ada Laptop, kayaknya, tapi harusnya iya. Karena di dalam ruangan itu musiknya lumayan keras. Sebelahnya meja operator itu ada deretan kursi yang ditata memanjang, mungkin tempat para eksekutor duduk.

Dahi saya mulai mengkerut, "kok kecil gini ya? Mejanya cuma segini berati undangan nggak banyak, dong"

Tapi lagi-lagi saya kembali berpikir positif saja. Walaupun aseli saya grogi.


Ilustrasi. dictio.id


Intinya, santai dan tetap sadar. Jangan lupa to say No! Di akhir cerita.
Cuma itu yang jadi pegangan saya dan suami. Sesuai arahan teman saya.

Saya ambil meja di paling pojok.
Suami dan anak sulung saya sudah duduk menghadap tembok, saya ambil duduk menghadap depan.
Kemudian si mas eksekutor tadi mendatangi meja kami dan meminta tukar posisi duduk dengan saya, saya diminta menghadap ke tembok, ke dirinya.

Oke. Saya iyain aja.

Orang marketing pasti tau ya ini tujuannya apaan? Biar kami hanya fokus ke dia, tentunya.

Mulailah si mas eksekutor tersebut berbasa basi dan bercerita kesana kemari.

Kami iya iyain aja.

Mulai dari cerita kecil di brosur hingga membuka kamus handbook andalannya, yang isinya foto-foto keindahan luar negri.
Pamer foto-foto di hape juga, nunjukin member yang ini dan yang itu. Pamer foto yang katanya waktu dia ke jepang juga, atau dimanalah itu.
Tapi ada fotonya dia atau enggak juga saya nggak terlalu merhatiin, sih.

Yang saya tanam cuma satu, say No diakhir cerita cinta kita heya heya wo o o o *kahitna buk?

Saya fokus ke matanya, pura-puranya saya tergiur gitu. Pas saya natap ke dia, matanya malah di melotot-melototin.
Owh, mungkin ini yang disebut hipnotis.
Itu sebabnya, ada yang bilang jangan tatap mata orang yang belum anda kenal.

AC mulai terasa banget dinginnya. Saya menangkupkan kedua tangan saya di balik hijab saya.
Dan sepertinya dia membaca gerak tubuh saya, dia pun segera meminta rekannya untuk mematikan AC saja. Karena sepertinya dia juga menggigil.
Kebetulan beberapa hari ini Bali memang lumayan dingin.

Sampai di tengah-tengah perjalanan "eksekusi" itu, tiba-tiba malah dia yang seperti hopeless.

Lha gimana enggak?
Saya Credit card nggak ada, kartu ATM nggak bawa, M-banking nggak aktif.
Tapi dia tetap melanjutkan sih. *Ini yang bikin saya kasihan, dan ingat betapa beratnya perjuangan seorang sales, hehe.


Lanjut mang...


Setelah pertanyaan, penjelasan dan lain sebagainya tersebut. Yang intinya adalah kita disuruh join untuk jadi membershipnya, dengan biaya:
  1. Annual maintenance yang dibayarkan setelah tahun ke-2, karena tahun pertama Gratis! Tapi harus bayar fee setelah tahun ke-2 hingga tahun ke-22 masa keanggotaan kita. Ewww. Kalah lah itu cicilan KPR..
  2. Join fee dengan biaya yang entah berapa karena tidak disebutkan berapa nominalnya, katanya yang tahu adalah bagian finance.

Hmm, sales nggak tahu harga produk? Nggak mungkin dong ya.

Anehnya, ketika saya kepoin lagi tentang harganya berapa, malah dia nanya balik ke saya berapa budget yang saya mampu keluarkan.

Hlah???

Dannn, join member VIP dengan segudang manfaat dan kebaikan yang dijelaskan selama satu setengah jam penuh tadi hanya berlaku "TODAY!"


Ilustrasi. navalwiki.info


Iyes,
hanya berlaku hari itu juga, detik itu juga sebelum anda meninggalan "kandang eksekusi".

That's why, kita diundang berdua dengan suami. Karena tidak akan ada acara ngeles ngeles pakai alasan saya discuss dulu dengan suami atau isteri.



Voucher sudah di tangan, apakah ini penipuan?

Sampailah voucher nginep gratis di tangan.
Karena sesuai janjinya, voucher akan tetap diberikan meskipun kita tidak join member. Sebagai ucapan terima kasih karena telah bersedia hadir dalam acara "eksekusi" tersebut.

Sebelum itu si mas eksekutor nya meminta ktp saya dan suami untuk validasi voucher, katanya.
Sayangnya saya tidak memperhatikan lagi kemana KTP saya dibawa dan diapain.

Jadi, semisal nih, misalkan ada pihak yang mungkin ada indikasi tidak bertanggung-jawab menggunakan nama lengkap dan KTP saya, Sera, dan suami saya, untuk agar berhati-hati atau bisa mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada kami dengan menghubungi Contact me atau Instagram.


Kami pun pamit dengan wajah polos dan gembira setelah dapet voucher gratisan. Meskipun kami tidak tahu dan tidak punya jaminan si voucher akan bisa digunakan atau tidak nantinya.

Dan, si mas eksekutor yang mengayukan diri itupun nampak kelelahan telah bercerita 90 menit lamanya.

Kasihan?
Iya, sebagai sesama manusia, dan sebagai sesama sales.

Karena sesungguhnya dia bekerja, terlepas dari itu benar atau tidak, halal atau haram.
Tapi, rasa kasihan tak lantas membuat saya harus bunuh diri dengan join dan menguras keringat kami demi membayar mereka, No!



Ilustrasi. youtube.com



Kesimpulan dan pesan

Kalau dari sudut pandang saya, sebenarnya ini bukan (murni) penipuan seperti pada kasus "papa minta pulsa" atau papa papa yang lainnya. Ini hanya jual beli yang buram.

Buram artinya tidak jelas antara nilai manfaat dengan harga yang kita bayarkan.

Memang disitu dijelaskan, nilai nominalnya sekian per poin. Setiap tahunnya dapat sekian poin. Bisa dipakai untuk voucher hotel, pesawat, bahkan dikatakan pula telah di-covered oleh perusahaan asuransi ternama yaitu Pr***ial, yang mana setelah tahun ke 15 bisa diuangkan dsb, dsb...

Tapi tetap saja, bagi saya itu buram!

Karena, dari sekian panjang benefit yang diberikan, apakah terjamin kebenarannya?
Sedangkan kita tidak diberi waktu untuk berpikir, menimbang dan mencari referensi.

Karena setelah pulangnya saya browsing browsing lagi dan menemukan beberapa thread tentang kasus serupa, dimana banyak juga "korban" yang merasa telah tertipu dan sebagainya.

Saya pun mulai berpikir, bisa jadi voucher gratisan yang tadi saya dapatkan tidak akan pernah bisa dipakai.

Sayangnya hal ini baru bisa saya buktikan setelah 40 hari kedepan hingga enam bulan berikutnya. Dimana kurun waktu tersebut adalah waktu yang ditentukan untuk masa berlaku voucher.

Saya bersyukur, sudah tidak ada CC dan kartu ATM saya ketinggalan. Plus tidak pnya M-banking dan cuma punya satu rekening itu saja. *Hanya mungkin saya agak kecolongan soal KTP tadi, tapi semoga tidak menimbulkan masalah nantinya, ya.

Mungkin mas sales yang menyebut dirinya sebagai consultant tersebut menganggap saya "KERE", tapi gapapa lah selama itu tidak merugikan saya.


***


Pesan saya, dan mungkin ini juga reminder untuk saya juga.
Bahwa:
  • Tidak ada yang benar-benar Gratis! Tanpa syarat.
  • Perlu mewaspadai hadiah atau iming-iming gratis saat kita merasa tidak pernah mengikuti event apapun (undian, lomba, dsb)
  • Sebisa mungkin searching dulu atau bertanya ke teman, saudara, tetangga, atau seseorang yang dianggap bisa ngasih solusi.
  • Berdoa. Jangan lupa berdoa mohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa, karena segala sesuatu yang terjadi pastilah sesuai kehendak Nya.


***


Ps:
Bagi yang telah join dan merasa tertipu, maaf saya tidak bisa memberi solusi.

Dan bagi yang belum join, sebaiknya pikirkan lagi dari semua aspek positif dan negatifnya jika ingin join. Sebaiknya cari referensi terlebih dahulu.

Buat yang penasaran dengan voucher gratisnya, silahkan saja hadiri undangannya, tapi harus siap dengan segala resiko dan kemungkinan yang ada.


Sekian dan semoga bermanfaat.

Stay happy. Positive thinking. Dan jangan lupa bersyukur!





- Mak Icik -

2 komentar:

  1. Wah tulisannya sangat panjang dan bisa inget mba detil ceritanya. Keren bgt nih. Tapi memang pengalaman seperti ini harus ditulis supaya banyak yg waspada. Kl saya mending ga karena kl dateng ama suami bisa gelut suami dan salesnya. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe halo mba untari, iya soalnya kejadiannya baru saja jd masih fresh. Langsung ta tulis soalnga ternyata d beberapa thread bnyk yg komen jd korban gt, hehe

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan dan tidak meninggalkan link hidup.
Stop comment war!

Yukk bijak ber-Social Media...

Top Search

New Entry

design by Helplogger

Related post

Author



Saya bukan good writer, juga bukan good blogger, apalagi baking master,,, saya hanya emak-emak berdaster yang sering lupa kalo umurnya udah tua dan anaknya udah dua
(^。^) 

Yuk kenalan disini






"Berbagi-lah hal yang bermanfaat untuk orang lain meski itu kecil, Insya Allah akan memberi manfaat lebih untuk mu meski itu kelak"

- Sera Wicaksono -

Community